Nama:
Mohammad Insan Permana N
NPM:
16514798
Kelas:3PA11
Bulimia
Nervosa adalah kelainan cara makan yang
terlihat dari kebiasaan makan berlebihan yang
terjadi secara terus menerus. Bulimia adalah kelainan pola makan yang sering
terjadi pada wanita. Kelainan tersebut biasanya merupakan suatu bentuk
penyiksaan terhadap diri sendiri. Yang paling sering dilakukan oleh lebih dari
75% orang dengan bulimia nervosa adalah membuat dirinya muntah, kadang-kadang
disebut pembersihan; puasa, serta penggunaan laksatif, enema, diuretik,
dan olahraga yang
berlebihan juga merupakan ciri umum.
Penyakit
Bulimia Nervosa, Penyebab, Gejala, Akibat serta Pengobatan
Penyakit
mental lainnya yang biasanya dialami oleh wanita, Bulimia atau juga dikenal
dengan bulimia nervosa mempengaruhi sekitar 3% dari wanita di amerika Serikat.
Bulimia adalah penyakit yang diakibatkan oleh psikologi pasien, yang
mengakibatkan kelainan makan. Bulimia merupakan keadaan dimana seorang pasien
makan secara berlebihan secara berulang-ulang (binge) dan kemudian kembali
mengeluarkannya. Mengeluarkan makanan yang dimakan ini bisa melalui muntah yang
biasanya diinduksi dengan obat pencahar, selain itu juga dengan mengeluarkannya
lewat kencing dengan menggunakan obat diuretik.
Selain
itu, selain makan berlebih, penderita bulimia juga cenderung diet sangat ketat
dan juga olah raga yang berlebihan. Cirri khas penyakit bulimia sudah tentu
kebiasaan mengeluarkan makanan yang dimakan dengan sangat cepat, sehingga
sangat aneh bagi orang biasa kalau sehabis makan kembali memuntahkan
makanannya.
Membersihkan
atau memuntahkan makanan ini diperkirakan sebagai aksi untuk mengurangi rasa
benci atau rasa bersalah karena sudah binge. Pasien berobsesi untuk
membersihkan diri mereka dari makanan itu, sehingga makanan yang masuk tidak
sempat terserap tubuh.
Seorang
pasien penyakit bulimia dalam melakukan pesta makan ini, diduga terdorong oleh
depresi atau stress terhadap sesuatu yang berhubungan dengan berat badan,
bentuk badan ataupun makanan. Mereka menganggap, makan merupakan kegiatan
paling menyenangkan dan bisa menghilangkan depresi. Namun kebahagiaan itu hanya
berlangsung sementara karena akhirnya mereka kembali membenci makanan serta
marah atas control diri terhadap pesta makan yang kurang. Kebencian ini membuat
mereka terobsesi untuk membersihkan makanan tersebut dari tubuh.
Aksi
pembersihan biasanya berlangsung seketika, namun pada beberapa penderita
bulimia melakukan pembersihan pada beberapa periode setelahnya.
Sama
halnya dengan anorexia, bulimia selalu berhubungan dengan control diet ataupun
penurunan berat badan. Penderita bulimia biasanya terlalu memperhatikan berat
badan, selalu merasa kurang percaya diri dengan berat badan sehingga cenderung
melakukan diet berlebih. Bedanya dengan penderita anorexia, penderita bulimia
memiliki berat badan yang lebih stabil sehingga penyakit ini jarang diketahui
oleh masyarakat umum
Terapi
Bulimia
Bagian tersulit sekaligus terpenting dalam
menangani bulimia adalah membuat seseorang yang mengidap penyakit ini sadar
akan kelainan yang dialami. Kesadaran ini sangat diperlukan agar pengidap
memiliki keinginan untuk sembuh dan bersedia menjalani pengobatan.
Penanganan utama untuk mengatasi bulimia adalah
dengan terapi psikologi. Melalui terapi, pasien akan dibantu untuk kembali
membangun sikap dan pikiran positif terhadap pola makan. Proses ini juga akan
membantu untuk mendeteksi masalah emosional di balik bulimia.
Ada dua jenis terapi yang dapat dijalani, yaitu
terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi interpersonal. Lewat CBT, pasien akan
dibantu untuk mengenali pemicu bulimia, misalnya pendapat dan perilaku negatif,
lalu belajar untuk menggantikannya dengan pemikiran yang positif dan sehat.
Sedangkan terapi interpersonal akan membantu
pasien untuk mendeteksi masalah dalam berhubungan dengan orang lain, sekaligus
meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi dan menyelesaikan masalah.
Untuk mengurangi gejala,
penggunaan penghambat pelepasan selektif serotonin (SSRI) juga terkadang
dikombinasikan dengan terapi Fluoxetine adalah SSRI yang paling sering
digunakan dalam menangani bulimia.
Dokter akan memantau perkembangan kondisi serta
reaksi tubuh pasien terhadap obat secara berkala selama menggunakan
antidepresan. Patut diketahui, obat ini tidak cocok digunakan oleh pengidap
bulimia di bawah 18 tahun, penderita epilepsi, memiliki keluarga dengan riwayat
penyakit jantung, hati, atau ginjal.
Jika Anda mengidap bulimia dan mengalami
komplikasi yang serius, Anda sebaiknya menjalani penanganan di rumah sakit.
Langkah ini diambil guna mencegah akibat fatal dari komplikasi sekaligus
menangani dorongan untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.
Untuk sembuh dari bulimia, pengidap penyakit ini
harus mampu mengubah pola makan, mengubah pola pikir tentang makan, serta
meningkatkan berat badan secara perlahan. Semakin lama seseorang mengidap
bulimia, semakin sulit untuk menyembuhkannya. Maka dari itu, penanganan lebih
baik dilakukan secepatnya.
Langkah penanganan terhadap bulimia umumnya
membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Dukungan penuh dari teman
serta keluarga juga berperan penting dalam menyembuhkan pengidap bulimia.
Karena itu, pengidap serta keluarga dianjurkan untuk bersabar dalam
menjalaninya..
Sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar