Sabtu, 15 April 2017

Terapi Bulimia Nervosa

Nama: Mohammad Insan Permana N
NPM: 16514798
Kelas:3PA11

Bulimia Nervosa adalah kelainan cara makan yang terlihat dari kebiasaan makan berlebihan yang terjadi secara terus menerus. Bulimia adalah kelainan pola makan yang sering terjadi pada wanita. Kelainan tersebut biasanya merupakan suatu bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri. Yang paling sering dilakukan oleh lebih dari 75% orang dengan bulimia nervosa adalah membuat dirinya muntah, kadang-kadang disebut pembersihan; puasa, serta penggunaan laksatif, enema, diuretik, dan olahraga yang berlebihan juga merupakan ciri umum.
Penyakit Bulimia Nervosa, Penyebab, Gejala, Akibat serta Pengobatan
Penyakit mental lainnya yang biasanya dialami oleh wanita, Bulimia atau juga dikenal dengan bulimia nervosa mempengaruhi sekitar 3% dari wanita di amerika Serikat. Bulimia adalah penyakit yang diakibatkan oleh psikologi pasien, yang mengakibatkan kelainan makan. Bulimia merupakan keadaan dimana seorang pasien makan secara berlebihan secara berulang-ulang (binge) dan kemudian kembali mengeluarkannya. Mengeluarkan makanan yang dimakan ini bisa melalui muntah yang biasanya diinduksi dengan obat pencahar, selain itu juga dengan mengeluarkannya lewat kencing dengan menggunakan obat diuretik.
Selain itu, selain makan berlebih, penderita bulimia juga cenderung diet sangat ketat dan juga olah raga yang berlebihan. Cirri khas penyakit bulimia sudah tentu kebiasaan mengeluarkan makanan yang dimakan dengan sangat cepat, sehingga sangat aneh bagi orang biasa kalau sehabis makan kembali memuntahkan makanannya.
Membersihkan atau memuntahkan makanan ini diperkirakan sebagai aksi untuk mengurangi rasa benci atau rasa bersalah karena sudah binge. Pasien berobsesi untuk membersihkan diri mereka dari makanan itu, sehingga makanan yang masuk tidak sempat terserap tubuh.
Seorang pasien penyakit bulimia dalam melakukan pesta makan ini, diduga terdorong oleh depresi atau stress terhadap sesuatu yang berhubungan dengan berat badan, bentuk badan ataupun makanan. Mereka menganggap, makan merupakan kegiatan paling menyenangkan dan bisa menghilangkan depresi. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sementara karena akhirnya mereka kembali membenci makanan serta marah atas control diri terhadap pesta makan yang kurang. Kebencian ini membuat mereka terobsesi untuk membersihkan makanan tersebut dari tubuh.
Aksi pembersihan biasanya berlangsung seketika, namun pada beberapa penderita bulimia melakukan pembersihan pada beberapa periode setelahnya.
Sama halnya dengan anorexia, bulimia selalu berhubungan dengan control diet ataupun penurunan berat badan. Penderita bulimia biasanya terlalu memperhatikan berat badan, selalu merasa kurang percaya diri dengan berat badan sehingga cenderung melakukan diet berlebih. Bedanya dengan penderita anorexia, penderita bulimia memiliki berat badan yang lebih stabil sehingga penyakit ini jarang diketahui oleh masyarakat umum
Terapi Bulimia
Bagian tersulit sekaligus terpenting dalam menangani bulimia adalah membuat seseorang yang mengidap penyakit ini sadar akan kelainan yang dialami. Kesadaran ini sangat diperlukan agar pengidap memiliki keinginan untuk sembuh dan bersedia menjalani pengobatan.
Penanganan utama untuk mengatasi bulimia adalah dengan terapi psikologi. Melalui terapi, pasien akan dibantu untuk kembali membangun sikap dan pikiran positif terhadap pola makan. Proses ini juga akan membantu untuk mendeteksi masalah emosional di balik bulimia.
Ada dua jenis terapi yang dapat dijalani, yaitu terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi interpersonal. Lewat CBT, pasien akan dibantu untuk mengenali pemicu bulimia, misalnya pendapat dan perilaku negatif, lalu belajar untuk menggantikannya dengan pemikiran yang positif dan sehat.
Sedangkan terapi interpersonal akan membantu pasien untuk mendeteksi masalah dalam berhubungan dengan orang lain, sekaligus meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi dan menyelesaikan masalah.
Untuk mengurangi gejala, penggunaan penghambat pelepasan selektif serotonin (SSRI) juga terkadang dikombinasikan dengan terapi Fluoxetine adalah SSRI yang paling sering digunakan dalam menangani bulimia.
Dokter akan memantau perkembangan kondisi serta reaksi tubuh pasien terhadap obat secara berkala selama menggunakan antidepresan. Patut diketahui, obat ini tidak cocok digunakan oleh pengidap bulimia di bawah 18 tahun, penderita epilepsi, memiliki keluarga dengan riwayat penyakit jantung, hati, atau ginjal.
Jika Anda mengidap bulimia dan mengalami komplikasi yang serius, Anda sebaiknya menjalani penanganan di rumah sakit. Langkah ini diambil guna mencegah akibat fatal dari komplikasi sekaligus menangani dorongan untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.
Untuk sembuh dari bulimia, pengidap penyakit ini harus mampu mengubah pola makan, mengubah pola pikir tentang makan, serta meningkatkan berat badan secara perlahan. Semakin lama seseorang mengidap bulimia, semakin sulit untuk menyembuhkannya. Maka dari itu, penanganan lebih baik dilakukan secepatnya.
Langkah penanganan terhadap bulimia umumnya membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Dukungan penuh dari teman serta keluarga juga berperan penting dalam menyembuhkan pengidap bulimia. Karena itu, pengidap serta keluarga dianjurkan untuk bersabar dalam menjalaninya..
Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar