Selasa, 11 Agustus 2015

Kreativitas Mahasiswa Dalam Memilih Kegiatan Untuk Mengisi Waktu Luang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Ada banyak hal yang dapat kita lakukan semasa hidup kita. Berapa banyak nafas yang kita hembuskan, sebanyak itu pula waktu kita telah berlalu. Ini bukan masalah yang remeh, tapi ini akan menjadi sejarah hidup kita dan akan dipelajari oleh generasi setelah kita.
Waktu memang selalu berjalan dan akan terus berjalan. Waktu tidak dapat diciptakan oleh manusia, tapi waktu bisa kita manfaatkan bersama. Begitu banyak waktu yang ada di kehidupan kita, tapi pertanyaannya adalah berapa persen waktu yang telah kita memanfaatkan untuk kemajuan diri kita.
Waktu yang telah berlalu dan terbuang sia-sia jangan dilanjutkan dengan menyesal yang berlarut. Ternyata waktu yang berlalu itu dapat kita manfaatkan kembali yaitu menggunakannya sebagai bahan pelajaran untuk upaya kita menjadi lebih maju. Sebenarnya waktu luang itu bukanlah berhentinya suatu aktifitas. Ukuran tersebut terlalu sempit untuk menilai waktu luang. Waktu luang adalah dimana kita sedang tidak melakukan suatu aktifitas tertentu.
Maka dari itu kami sangat tertarik dengan judul permasalahan yang kami tulis yaitu ”Kreativitas Mahasiswa Dalam Memilih Kegiatan Untuk Mengisi Waktu Luang” untuk dapat memahami mengenai kreativitas mahasiswa dalam memilih cara untuk memilih kegiatan dalam mengisi waktu luang dan perkembangan kreativitas mahasiswa serta kapasitas komponen-komponen pendukung pemikiran kreatif.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah kreatifitas mahasiswa dalam memilih aktivitas untuk mengisi waktu luang?


Dasar Teori
A. PENGERTIAN KREATIVITAS

Walaupun ada pengakuan ilmiah terhadap pentingnya kreativitas, namun hingga kini hanya sedikit sekali penelitian yang telah dilakukan. Hal itu disebabkan adanya kesulitan metodologi dan karena adanya keyakinan bahwa kreativitas adalah suatu faktor bawaan individual sehingga hanya sedikit yang dapat dilakukan untuk mengendalikannya.
Beberapa pengertian kreativitas menurut para ahli, diantaranya ;

a.       Utami Munandar (1995 : 25) kreativitas adalah suatu kemampuan umum untuk menciptakan suatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.

b.      Imam Musbikin (2006 : 6) kreativitas adalah kemampuan memulai ide, melihat hubungan yang baru, atau tak diduga sebelumnya, kemampuan memformulasikan konsep yang tak sekedar menghafal, menciptakan jawaban baru untuk soal-soal yang ada, dan mendapatkan pertanyaan baru yang perlu di jawab.
c.       Mangunhardjana (1986 : 11) adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya berguna (useful), lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik atau banyak.

d.      Sternberg (1988), kreativitas merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis, yaitu intelegensi, gaya kognitif, dan kepribadian/motivasi.
e.       Baron (1969) yang menyatakan kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang baru.

f.        Supriyadi dalam Yeni Rachmawati dan Euis Kurniati (2005 : 15) mengutarakan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada. Selanjutnya ia menambahkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengimplikasikan terjadinya eskalasi dalam kemampuan berpikir, ditandai oleh suksesi, diskontinuitas, diverensiasi, dan integrasi antara setiap tahap perkembangan.

g.       Clark Moustakis (1967), ahli psikologi humanistic menyatakan bahwa kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain.

h.       Rhodes, umumnya kreativitas didefinisikan sebagai Person, Process, Press, Product. Keempat P ini saling berkaitan, yaitu Pribadi (Person) kreatif yang melibatkan diri dalam proses (Process) kreatif, dan dengan dorongan dan dukungan (Press) dari lingkungan, menghasilkan produk (Product) kreatif.

i.         Hulbeck (1945), “ Creative action is an imposing of one’s own whole personality on the environment in an unique and characteristic way”. Dimana tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya.

j.        Haefele (1962), kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna social.

k.      Torrance (1988), kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasil-hasilnya.
Dari berbagai pengertian yang dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan makna dari kreativitas penulis mengambil kesimpulan bahwa kreativitas adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru, proses konstuksi ide yang dapat diterapkan dalam menyelesaikan masalah, serta suatu kegiatan yang bermanfaat.

Adapun Definisi kreativitas tergantung pada segi penekanannya, kreativitas dapat didefinisikan kedalam empat jenis dimensi sebagai Four P’s Creativity, yaitu dimensi Person,Proses, Press dan Product sebagai berikut :

1.      Definisi kreativitas dalam dimensi Person. Definisi pada dimensi person adalah upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada individu atau person dari individu yang dapat disebut kreatif. “Creativity refers to the abilities that are characteristics of creative people” (Guilford, 1950 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001). “Creative action is an imposing of one’s own whole personality on the environment in an unique and characteristic way
(Hulbeck, 1945 dikutip Utami Munandar, 1999). Guilford menerangkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan atau kecakapan yang ada dalam diri seseorang, hal ini erat kaitannya dengan bakat. Sedangkan Hulbeck menerangkan bahwa tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi kreativitas dari dua pakar diatas lebih berfokus pada segi pribadi.

2.      Kreativitas dalam dimensi Process. Definisi pada dimensi proses upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada proses berpikir sehingga memunculkan ide-ide unik atau kreatif. “Creativity is a process that manifest in self in fluency, in flexibility as well in originality of thinking” (Munandar, 1977 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001). Utami Munandar menerangkan bahwa kreativitas adalah sebuah proses atau kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibititas), dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci), suatu gagasan. Pada definisi ini lebih menekankan pada aspek proses perubahan (inovasi dan variasi). Dari pendapat diatas kreativitas sebagai sebuah proses yang terjadi didalam otak manusia dalam menemukan dan mengembangkan sebuah gagasan baru yang lebih inovatif dan variatif (divergensi berpikir).

3.      Definisi Kreativitas dalam dimensi Press. Definisi dan pendekatan kreativitas yang menekankan faktor press atau dorongan, baik dorongan internal diri sendiri berupa keinginan dan hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif, maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis. Definisi Simpson (1982) dalam S. C. U. Munandar 1999, merujuk pada aspek dorongan internal dengan rumusannya sebagai berikut : “The initiative that one manifests by his power to break away from the usual sequence of thought”
Mengenai “press” dari lingkungan, ada lingkungan yang menghargai imajinasi dan fantasi, dan menekankan kreativitas serta inovasi. Kreativitas juga kurang berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan tradisi, dan kurang terbukanya terhadap perubahan atau perkembangan baru.

4.      Definisi Kreativitas dalam dimensi Product. Definisi pada dimensi produk merupakan upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada produk atau apa yang dihasilkan oleh individu baik sesuatu yang baru/original atau sebuah elaborasi/penggabungan yang inovatif. “Creativity is the ability to bring something new into existence” (Baron, 1976 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001)
Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan pada orisinalitas, seperti yang dikemukakan oleh Baron (1969) yang menyatakan bahwa kreatifitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula menurut Haefele (1962) dalam Munandar, 1999; yang menyatakan kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial. Dari dua definisi ini maka kreatifitas tidak hanya membuat sesuatu yang baru tetapi mungkin saja kombinasi dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
Dari berbagai pengertian yang dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan makna dari kreativitas yang dikaji dari empat dimensi yang memberikan definisi saling melengkapi. Untuk itu kita dapat membuat berbagai kesimpulan mengenai definisi tentang kreativitas dengan acuan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli.

Dari beberapa uraian mengenai definisi kreativitas yang dikemukakan diatas peneliti menyimpulkan bahwa : “Kreativitas adalah proses konstruksi ide yang orisinil (asli), bermanfaat, variatif (bernilai seni) dan inovatif (berbeda/lebih baik)”.

B. KONSEP DASAR KREATIVITAS BERDASAR 4 P

Strategi 4P yaitu Pribadi, Pendorong, Proses, dan Produk yang menurut para ahli dapat membantu mengembangkan kreatifitas anak jika diterapkan secara benar. Pada dasarnya setiap anak memiliki kreativitas, hanya saja tidak semua anak bisa mengembangkan kreatifitasnya dengan benar. Untuk itu diperlukan peran orang tua dalam mengembangkan kreatifitas tersebut. Melalui strategi 4P ini diharapkan dapat membantu orang tua dalam mengembangkan kreativitas anaknya.
Pribadi

Hal pertama yang harus orang tua ketahui dalam upaya mengembangkan kreatifitas anak adalah dengan memahami pribadi mereka, diantaranya dengan :
·         Memahami bahwa setiap anak memiliki pribadi berbeda, baik dari bakat, minat, maupun keinginan.
·         Menghargai keunikan kreativitas yang dimiliki anak, dan bukan mengharapkan hal-hal yang sama antara satu anak dengan anak lainnya, karena setiap anak adalah pribadi yang “unik”, dan kreatifitas juga merupakan sesuatu yang unik.
·         Jangan membanding-bandingkan anak karena tiap anak memiliki minat, bakat, kelebihan serta ketebatasannya masing-masing. Pahamilah kekurangan anak dan kembangkanlah bakat dan kelebihan yang dimilikinya.
Pendorong
Dorongan dan motivasi bagi anda sangat berguna bagi anak dalam mengembangkan motivasi instrinsik mereka, dengan begitu mereka akan sendirinya berkreasi tanpa merasa dipaksa dan dituntut ini itu, kita dapat melakukan :
·         Berilah fasilitas dan sarana bagi mereka untuk berkreasi, misalnya melalui mainan-mainan yang bisa merangsang daya kreativitas anak misalnya balok-balok susun, lego, mainan alat dapur dan sebagainya. Hindari memberikan mainan yang tinggal pencet tombol atau mainan langsung jadi.
·         Ciptakan lingkungan keluarga yang mendukung kreatifitas anak dengan memberikan susana aman dan nyaman.
·         Hindari membatasai ruang gerak anak didalam rumah karena takut ada barang-barang yang pecah atau rusak, karena cara ini justru bisa memasung kreativitas mereka, alangkah lebih baik jika anda mau mengalah dengan menyimpan dahulu barang-barang yang mudah pecah ketempat yang aman, atau anda bisa meyediakan tempat khusus bermain anak, dimana anak bebas berkreasi.
·         Disiplin tetap diperlukan agar ide-ide kreatif mereka bisa terwujud.
Proses
Proses berkreasi merupakan bagian paling penting dalam pengembangan kreativitas dimana anak anda akan merasa mampu dan senang bersibuk diri secara kreatif dengan aktifitas yang dilakukannya, baik melukis, menyusun balok, merangkai bunga dan sebagainya, beberapa hal yang dapat dilakukan:
·         Hargailah kreasinya tanpa perlu berlebihan, karena secara intuisif anak akan tahu mana pujian yang tulus dan yang mana yang hanya akan basa-basi.
·         Hindari memberi komentar negatif saat anak berkreasi, apalagi disertai dengan perintah ini itu terhadap karya yang sedang dibuatnya, karena hal ini justru dapat menyurutkan semangatnya berkreasi.
·         Peliharalah harga diri anak dengan mengungkapkan terlebih dahulu komentar anda secara positif, misalnya “bunda senang adek bisa membuat menara seperti itu, lain kali adek buat yang lebih tinggi dan tidak mudah ambruk ya.” Dengan demikian anak akan merasa dirinya mampu dan dihargai lingkungannya
Produk
Pada tahap ini anak sudah bisa menghasilkan produk kreatif mereka, yang bisa dilakukan:
·         Hargailah hasil kreatifitas mereka meski hasilnya agak kurang memuaskan.
·         Pajanglah karya anak anda di kamar mereka atau tempat-tempat lain yang memungkinkan. Dengan demikian, anak akan merasa bangga karena karyanya dihargai.
TEORU MENGENAI KREATIVITAS : 

C. TEORI PEMBENTUKAN PRIBADI KREATIF :

a. Teori Psikoanalisa

Psikoanalisa memandang kreativitas sebagai hasil mengatasi suatu masalah, yang biasanya dimulai sejak di masa anak-anak. Priadi kreatif dipandang sebagai seseorang yang pernah mempunyai pengalaman traumatis, yang dihadapi dengan memungkinkan gagasan-gagasan yang disadari dan yang tidak disadari bercampur menjadi pemecahan inovatif dari trauma.
Adapun tokoh-tokohnya adalah:

Sigmund Freud. Ia menjelaskan proses kreatif dari mekanisme pertahanan, yang merupakan upaya tak sadar untuk menghindari kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau yang tidak dapat diterima. Sehingga biasanya mekanisme pertahanan merintangi produktivitas kreatif. Meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif, namun justru mekanisme sublimasi justru merupakan penyebab utama dari kreativitas.

Ernest Kris. Ia menekankan bahwa mekanisme pertahanan regresi (beralih ke perilaku sebelumnya yang akan memberi kepuasaan, jika perilaku sekarang tidak berhasil atau tidak memberi kepuasaan) juga sering muncul dalam tindakan kreatif.

Carl Jung. Ia juga percaya bahwa ketidaksadaran memainkan peranan yang amat penting dalam kreativitas tingkat tinggi. Alam pikiran yang tidak disadari dibentuk oleh masa lalu pribadi. Dengan adanya ketidaksadaran kolektif, akan timbul penemuan, teori, seni, dan karya-karya baru lainnya. Prose inilah yang menyebabkan kelanjutan dari eksistensi manusia.

b. Teori Humanistik
Humanistik lebih menekankan kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi. Dan kreativitas dapat berkembang selama hidup dan tidak terbatas pada usia lima tahun pertama.
Abraham Maslow. Ia menekankan bahwa manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan itu, diwujudkan Maslow sebagai hirarki kebutuhan manusia, dari yang terendah hingga yang tertinggi.

Carl Rogers. Ia menjelaskan ada 3 kondisi dari pribadi yang kreatif, adalah keterbukaan terhadap pengalaman, kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan Patokan pribadi seseorang, kemampuan untuk bereksperiman atau untuk ‘bermain’ dengan konsep-konsep.

  C.     Teori Cziksentmihalyi

Ciri pertama yang memudahkan tumbuhnya kreativitas adalah Predisposisi genetis (genetic predispotition). Contoh seorang yang system sensorisnya peka terhadap warna lebih mudah menjadi pelukis, peka terhadap nada lebih mudah menjadi pemusik.

a.       Minat pada usia dini pada ranah tertentu: 
Minat menyebabkan seseorang terlibat secara mendalam terhadap ranah tertentu, sehingga mencapai kemahiran dan keunggulan kreativitas. 

b.      Akses terhadap suatu bidang: 
Adanya sarana dan prasarana serta adanya pembina/mentor dalam bidang yang diminati   sangat membantu pengembangan bakat.
  
c.       Access to a field: 
Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sejawat + tokoh-tokoh penting dalam bidang yang digeluti, memperoleh informasi yang terakhir, mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan pakar-pakar dalam b idang yang diminati sangat penting untuk mendapatkan pengakuan + penghargaan dari orang-orang penting.    

Orang-orang kreatif ditandai adanya kemampuan mereka yang luar biasa untuk menyesuaikan diri terhadap hampir setiap situasi dan untuk melakukan apa yang perlu untuk mencapau tujuannya.

[U1] 






1. Definisi Waktu Luang
Dalam bahasa Inggris waktu luang dikenal dengan sebutan leisure. Kata leisure sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu licere yang berarti diizinkan (To be Permited) atau menjadi bebas (To be Free). Kata lain dari leisure adalah loisir yang berasal dari bahasa Perancis yang artinya waktu luang (Free Time), George Torkildsen (Januarius Anggoa, 2011).
Berdasarkan teori dari George Torkildsen dalam bukunya yang berjudul leisure and recreation management (Januarius Anggoa, 2011) definisi berkaitan dengan leisure antara lain:

a. Waktu luang sebagai waktu (leisure as time)
Waktu luang digambarkan sebagai waktu senggang setelah segala kebutuhan yang mudah telah dilakukan. Yang mana ada waktu lebih yang dimiliki untuk melakukan segala hal sesuai dengan keinginan yang bersifat positif. Pernyataan ini didukung oleh Brightbill yang beranggapan bahwa waktu luang erat kaitannya dengan kaitannya dengan kategori discretionary time, yaitu waktu yang digunakan menurut pemilihan dan penilaian kita sendiri.
b. Waktu luang sebagai aktivitas (leisure as activity)
Waktu luang terbentuk dari segala kegiatan bersifat mengajar dan menghibur pernyataan ini didasarkan pada pengakuan dari pihak The International Group of the Social Science of Leisure, menyatakan bahwa:
“waktu luang berisikan berbagai macam kegiatan yang mana seseorang akan mengikuti keinginannya sendiri baik untuk beristirahat, menghibur diri sendiri, menambah pengetahuan atau mengembangkan keterampilannya secara objektif atau untuk meningkatkan keikutsertaan dalam bermasyarakat.
c. Waktu luang sebagai suasana hati atau mental yang positif (leisure as an end in itself or a state of being)
Pieper beranggapan bahwa:“Waktu luang harus dimengerti sebagai hal yang berhubungan dengan kejiwaan dan sikap yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, hal ini bukan dikarenakan oleh faktor-faktor yang datang dari luar. Hal ini juga bukan merupakan hasil dari waktu senggang, liburan, akhir pekan, atau liburan panjang.
d. Waktu luang sebagai sesuatu yang memiliki arti luas (leisure as an all embracing)
Menurut Dumadezirer, waktu luang adalah relaksasi, hiburan, dan pengembangan diri. Dalam ketiga aspek tersebut, mereka akan menemukan kesembuhan dari rasa lelah, pelepasan dari rasa bosan, dan kebebasan dari hal-hal yang bersifat menghasilkan. Dengan kata lain, waktu luang merupakan ekspresi dari seluruh aspirasi manusia dalam mencari kebahagiaan, berhubungan dengan tugas baru, etnik baru, kebijakan baru, dan kebudayaan baru.
e. Waktu luang sebagai suatu cara untuk hidup (leisure as a way of living)
Seperti yang dijelaskan oleh Goodale dan Godbye dalam buku The Evolution Of Leisure : “Waktu luang adalah suatu kehidupan yang bebas dari tekanan-tekanan yang berasal dari luar kebudayaan seseorang dan lingkungannya sehingga mampu untuk bertindak sesuai rasa kasih yang tak terelakkan yang bersifat menyenangkan, pantas, dan menyediakan sebuah dasar keyakinan”.
Hal senada juga diungkapkan oleh Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007) yang melihat arti istilah waktu luang dari 3 dimensi, yaitu:
a. Dilihat dari dimensi waktu, waktu luang dilihat sebagai waktu yang tidak digunakan untuk bekerja mencari nafkah, melaksanakan kewajiban, dan mempertahankan hidup.
b. Dari segi cara pengisian, waktu luang adalah waktu yang dapat diisi dengan kegiatan pilihan sendiri atau waktu yang digunakan dan dimanfaatkan sesuka hati.
c. Dari sisi fungsi, waktu luang adalah waktu yang dimanfaatkan sebagai sarana mengembangkan potensi, meningkatkan mutu pribadi, kegiatan terapeutik bagi yang mengalami gangguan emosi, sebagai selingan hiburan, sarana rekreasi, sebagai kompensasi pekerjaan yang kurang menyenangkan, atau sebagai kegiatan menghindari sesuatu.
Dengan banyaknya definisi waktu luang, dapat disimpulkan bahwa waktu luang adalah waktu yang mempunyai posisi bebas penggunaannya dan waktu tersebut berada diluar kegiatan rutin sehari-hari sehingga dapat dimanfaatkan secara positif guna meningkatkan produktifitas hidup yang efektif dan pengisian waktu luang dapat diisi dengan berbagai macam kegiatan yang mana seseorang akan mengikuti keinginannya sendiri baik untuk beristirahat, menghibur diri sendiri, menambah pengetahuan atau mengembangkan keterampilannya secara objektif.
Mengisi waktu luang bagi remaja terutama siswa yaitu waktu yang terdapat pada siswa diluar jam pelajaran sekolah dan dapat diisi dengan kegiatan relaksasi atau istirahat, kegiatan hiburan atau rekreasi, dan kegiatan pengembangan diri sesuai dengan pilihan sendiri sehingga akan timbul suatu kesembuhan dari rasa capek dan melepaskan dari rasa bosan.
2. Manfaat Mengisi Waktu Luang
Orang yang menggunakan waktu secara efisien dan kreatif akan memperoleh banyak keuntungan, misalnya mereka dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, sehingga ada waktu untuk memulihkan kebugaran fisik dan mental, rekreasi, dan interaksi sosial.
Manfaat mengisi waktu luang yaitu menurut Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007) yaitu:
a. Bisa meningkatkan kesejahteraan jasmani.
b. Meningkatkan kesegaran mental dan emosional.
c. Membuat kita mengenali kemampuan diri sendiri.
d. Mendukung konsep diri serta harga diri.
e. Sarana belajar dan pengembangan kemampuan.
f. Pelampiasan ekspresi dan keseimbangan jasmani, mental, intelektual, spiritual, maupun estetika.
g. Melakukan penghayatan terhadap apa yang anda sukai tanpa tidak mempedulikan segi materi.
Selain itu mengisi waktu luang juga berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan sosial, seperti :
a. Meningkatkan daya kerja sehingga memacu prestasi dan produktivitas.
b. Menambah konsumsi sehingga meningkatkan lapangan kerja.
c. Mengurangi kriminalitas dan kenakalan.
d. Meningkatkan kehidupan bermasyarakat.
Manfaat mengisi waktu luang bisa dirasakan bila pemanfaatan waktu luang sesuai dengan kebutuhan. Berikut akan dipaparkan mengenai manfaat pentingnya waktu luang untuk kesehatan jasmani, kesehatan rohani, sosialisasi diri dimasyarakat, kestabilan ekonomi, dan kesuksesan manajemen.
a. Waktu luang untuk kesehatan jasmani
Dalam hal ini dengan waktu luang akan bisa menikmati kesegaran kembali, sebagaimana keadaan urat syaraf bebas dari ketegangan. Pemanfaatan waktu luang untuk meningkatkan kesehatan diantaranya:
1) Membiasakan berolahraga.
2) Makan makanan ringan yang akan memberikan semangat.
3) Mengendurkan urat-urat syaraf dengan bersantai.
4) Menjauhi tempat keramaian yang dapat menimbulkan kebisingan di sekitar tempat beraktifitas (Yusuf Michael As’ad, 2003: 19-20).

b. Waktu luang untuk kesehatan rohani
Seseorang bisa berinteraksi dengan dua obyek yaitu obyek ekstern dan obyek intern. Individu yang melakukan sesuatu maka akan berkonsentrasi pada realita luar yang memberi efek pada tindakannya tersebut. Jika hal itu terjadi maka seseorang akan mengalami gangguan jiwa. Aktivitas kejiwaan agar individu paham dan membiasakannya sehingga memiliki kesehatan yang baik, yaitu:
1) Autokritik atau introspeksi diri.
2) Memberi solusi terhadap problema dan hambatan.
3) Menentukan tujuan yakni menyusun tujuannya atau tujuan yang baru.
4) Membuat rencana baru dan mengganti rencana lama.
5) Mencari pengalaman baru (Yusuf Michael As’ad, 2003: 23-26).

c. Waktu luang untuk sosialisasi diri di masyarakat
Dalam interaksi sosial baik skala individu maupun kelompok sebagaimana membutuhkan waktu luang yang dapat memperbaharui potensi dan kesiapan berinteraksi dengan yang lainnya. Pentingnya waktu luang yang sesuai dan cukup untuk merealisasikan keharmonisan social dalam hubungan sosial, yaitu:
1) Menilai hubungan sosial dengan mengevaluasi yang berkembang antara dia dan orang yang ada disekelilingnya sesuai dengan opininya.
2) Menilai strata sosial yang dimiliki seseorang dalam satu komunitas.
3) Memprediksi masa depan.
4) Merencanakan masa depan.
5) Menyiapkan media aplikasi yang sesuai (Yusuf Michael As’ad, 2003: 31-34).

d. Waktu luang untuk kestabilan ekonomi
Seseorang yang menggunakan waktu luang maka ia dapat mengevaluasi kondisi ekonominya, yaitu dengan mengevaluasi pemasukan dan pengeluaran serta menekan pengeluaran (Yusuf Michael As’ad, 2003: 39).


e. Waktu luang untuk kesuksesan manajemen
Waktu luang dipergunakan untuk berkomunikasi dengan oarng lain, bekerja sama dengan mereka, bersama-sama memikul tanggung jawab dan bangkit bersama mereka akan dapat meminimalisir ketegangan. Waktu luang dipergunakan juga menyusun strategi manajemen baru sehingga bisa mengoreksi diri dan mengatur pekerjaan (Yusuf Michael As’ad, 2003: 43).

3. Kegiatan Waktu Luang
Berdasarkan definisi teori waktu luang yaitu waktu luang sebagai aktivitas yaitu waktu yang berisikan berbagai macam kegiatan baik untuk beristirahat, menghibur diri sendiri, menambah pengetahuan serta menggunakan keterampilan secara objektif untuk meningkatkan keikutsertaan dalam bermasyarakat setelah melepaskan diri dari segala pekerjaan rutinnya, keluarga dan lingkungan sosial dan waktu luang sebagai relaksasi, hiburan, dan pengembangan diri. Beberapa kegiatan mengisi waktu luang diantaranya:
a. Relaxation Activity (Kegiatan Relaksasi)
Menurut Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007) kegiatan relaksasi diantaranya kegiatan relaksasi aktif misalnya: membetulkan alat rumah tangga atau berbenah rumah, memperbaiki sepeda motor. Kegiatan tersebut sifatnya produktif cenderung meningkatkan ketrampilan dan harga diri. Selain itu bisa melakukan relaksasi pasif dengan cara menonton televisi, mendengarkan musik, dan membaca tulisan ringan. Namun terlalu banyak melakukan kegiatan relaksasi pasif akan membuat kehilangan waktu untuk kegiatan yang lebih produktif.
b. Entertainment Activity (Kegiatan Hiburan) Fine, Mortimer, & Robert (Broderick & Blewitt, 2006), menyebutkan bahwa kegiatan hiburan atau rekreasi dapat mempromosikan penguasaan keterampilan, seperti olahraga partisipasi, hobi, dan kesenian atau mungkin lebih murni rekreasi seperti bermain video game, melamun atau nongkrong dengan teman-teman. Menurut Ahmad H. Kanzun (2002: 68) Kegiatan olahraga termasuk dalam salah satu kegiatan yang positif dan terarah. Karena dengan berolahraga, remaja dapat menjaga kondisi tubuhnya agar selalu sehat dan dapat melakukan segala aktifitasnya.
Selanjutnya menurut penggolongan ahli pengetahuan hobi Margaret E. Mulac Hobbies: The Creative Use of Leisure (1959), (The Liang Gie , 1996: 99-100), ada 4 macam hobi, yaitu:
1) Making Hobbies (Membikin)
Ini meliputi berbagai seni kerajinan seperti misalnya kegiatan pahat, ukir, kerajinan emas-perak, keramik, tenun, dan fotografi.
2) Learning Hobbies (Belajar)
Ini meliputi segala macam bentuk belajar seperti misalnya mempelajari sejarah, karang-mengarang, atau bahasa asing.
3) Doing Hobbies (Melakukan)
Ini meliputi segala macam bentuk melakukan sesuatu hal, misalnya menyanyi, menari, memainkan alat musik, berkebun, dan aneka hobi alam (misalnya mengamati burung atau memelihara ikan hias).
4) Collectting Hobbies (Mengumpulkan)
Ini meliputi kegiatan mengumpulkan bermacam-macam benda seperti perangko, mata uang, buku antik, dan batu-batuan.
c. Personal Development Activity (Kegiatan Pengembangan Diri)
Pengembangan diri termasuk kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan identitas, mengembangkan bakat dan potensi, membangun modal manusia, dan memfasilitasi kerja, meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi pada realisasi mimpi dan aspirasi serta rohani
pengembangan (Anonim, 2009).


Berteman, bergaul dan mengikuti aktivitas disekitar rumah atau sekolah atau kegiatan yang berhubungan dengan kesiapannya menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi (misalnya pergi keperpustakaan, latihan soal-soal). Menurut Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007), mengikuti kursus musik, kelompok teater, kursus bahasa asing, melukis, mengarang, membuat sajak, memasak, menata musik, membuat patung. Kegiatan ini selain meningkatkan ketrampilan, juga menimbulkan perasaan kesuksesan. Menurut Ahmad H. Kanzun (2002: 36) Mengikuti kegiatan masjid yang merupakan pusat kegiatan keislaman dalam mengasah wawasan dan menambah pengetahuan dibidang keagamaan sebagai pedoman hidup. Selain itu, mengikuti kegiatan kemasyarakatan (Ahmad H. Kanzun, 2002: 59) membentuk remaja sebagai generasi muda yang berkualitas, sangat diharapkan untuk dapat ikut berpartisipasi aktif dalam mengikuti segala kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dengan niat dan semangat yang positif. Dengan kegiatan tersebut diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan
antar sesama dan menumbuhkan rasa solidaritas. Kenyataannya dikalangan remaja menunjukkan adanya pemanfaatan waktu luang secara serampangan saja, tanpa adanya perencanaan yang matang, pengawasan maupun pengarahan. Hal itu yang menyebabkan fenomena negatif jarangnya siswa aktif dalam kegiatan-kegiatan kesiswaan yang teratur dan terarah adalah lemahnya upaya penyadaran akan urgensi kegiatan tersebut dan dampak pendidikannya dalam membentuk kepribadian dan perilaku siswa, disamping faktor-faktor lain seperti buruknya pengelolaan sebagian pengemban misi pendidikan yang menunjang kreativitas, monotonnya kegiatan ataupun minimnya hal-hal yang mendukung. Ahmad H. Kanzun (2002: 76-84) mengungkapkan beberapa kegiatan yang tidak terarah yang banyak dilakukan oleh remaja dalam mengisi waktu luangnya antara lain:
a. Tamasya bersama kawan-kawan yang berakhlak buruk di tempat-tempat tujuan wisata tanpa control.
b. Menghabiskan malam dengan begadang di tempat-tempat hiburan seperti bar, diskotik, dan lain-lain.
c. Terjerumus dalam permainan yang mengesampingkan aspek pendidikan maupun waktu.
d. Bermain dadu, kartu ataupun sejenis judi lainnya.
e. Keluyuran di jalan-jalan besar besar ataupun pasar-pasar tanpa alasan dan tujuan yang bermanfaat.
f. Nongkrong dikedai-kedai minuman atau dipinggir-pinggir jalan sambal merokok.


4. Permasalahan dalam Pemanfaatan Waktu Luang
Permasalahan yang biasa ditemukan dalam pemanfaatan waktu luang ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
a. Remaja cenderung tidak menyukai pemanfaatan wakru luang dengan
sesuatu yang menurutnya menuntut pemikiran dan beban target.
Strategi yang bisa diambil oleh orang tua atau guru adalah dengan

memberikan kegiatan yang diminati oleh anak tersebut. Sekolah bisa
menyiapkan saran prasarana (ekstrakurikuler) dan permainan yang bisa
dimanfaatkan siswa untuk bermain. Di rumah, orang tua bisa juga
menyediakan alat permainan yang disukai anak.
b. Waktu luang dianggap remaja sebagai waktu untuk melakukan apapun
yang disenanginya semata.
c. Bagi orang tua waktu luang adalah waktu yang harus dimanfaatkan
untuk sesuatu yang bermanfaat dan produktif dari sudut pandang orang
tua, bukan dari sudut pandang anak.
d. Orang tua menganggap bahwa waktu luang adalah waktu sia-sia
sehingga rehatnya anak diwaktu luang dianggap tidak memanfaatkan
waktu secara maksimal. Ketika anak selonjoran ditempat tidur dengan
membaca buku komik atau novel, sedang main game, jalan-jalan atau
sekedar menonton televisi, maka cenderung kita menganggap mereka
telah membuang waktu (Anonim, 2009).

5. Mengelola Waktu Luang Yang Kreatif
Waktu yang dimiliki setiap orang akan terus bergerak maju. Pada
prinsipnya waktu luang yang bergerak maju ini akan mengikis habis waktu
yang anda miliki. Kenyataan yang sering kita hadapi ternyata kita mengeluh
dengan waktu yang tiba-tiba berlalu begitu saja, sementara anda tidak berbuat
apa pun (Frans M. Royan, 2011: 88).
Depdiknas (2009), mengelola waktu dalam setiap kegiatan sangat
penting sehingga dapat memanfaatkan setiap jam, menit, dan bahkan detik

dalam hidup dengan sebaik-baiknya. Seorang siswa perlu memperhatikan dan
mengelola waktu mereka baik itu dalam lingkungan sekolah maupun diluar
sekolah, berikut akan dipaparkan apa saja yang perlu dilakukan dan
diperhatikan seseorang, khususnya pelajar dalam mengatur waktu:

a. Membagi Waktu
Tugas utama pelajar adalah belajar baik disekolah, rumah, ataupun
tempat kursus. Seorang pelajar harus melakukan pengaturan atas waktu
dan kegiatan belajar. Bagi seorang pelajar mengatur waktu tidak berarti ia
harus menghabiskan waktunya untuk belajar. Seorang pelajar tetap
membutuhkan waktu untuk bersosialisasi, bersantai, dan sebagainya.
Prinsip utama pengelolaan waktu secara efektif dalah pembagian waktu
untuk setiap kegiatan. Pada umumnya, setiap sekolah sudah menetapkan
jadwal belajarnya; kapan saatnya masuk sekolah, kapan saatnya pulang,
apa jadwal pelajaran hari per hari, jadwal kegiatan ekstrakurikuler, dan
seterusnya.

b. Membuat Jadwal
Untuk mempermudah pengaturan kegiatan, seorang pelajar dapat
menerapkan pula sistem jadwal kegiatan di sekolah untuk mengatur jadwal
kegiatan di rumah. Dengan kata lain, jadwal kegiatan yang didapat dari
sekolah kemudian ditambahkan dengan jadwal kegiatan pribadi di rumah
(di luar sekolah).
Langkah-langkah untuk menyusun jadwal kegiatan di rumah
adalah sebagai berikut:

1) Untuk mempermudah penyusunan jadwal, lakukanlah dahulu
survei kegiatan sehari-hari.
2) Tuliskan terlebih dahulu jadwal kegiatan yang bersifat terusmenerus
(reguler), seperti sekolah, bimbingan belajar, dan kegiatan
ekstrakurikuler.
3) Setelah mendaftarkan kegiatan reguler, mulailah menyusun daftar
kegiatan di rumah. Ketika survei, perhatikan pula beberapa aspek
kebutuhan dalam pekerjaan tersebut, seperti berapa lama waktu
yang dibutuhkan untuk mencuci, kapan waktu yang tepat untuk
memandikan adik, seberapa sering mencabuti rumput, dan lain
sebagainya.
4) Setelah mendaftarkan seluruh tugas dan kewajiban, pilah dan
masukkanlah waktu yang tepat untuk melakukan pekerjaanpekerjaan
tersebut. Dengan begitu akan terlihat pembagian waktu
yang jelas antara waktu belajar, melaksanakan tugas di rumah,
serta waktu luang untuk bermain dan beristirahat.

c. Menjalankan Jadwal
Seorang siswa setelah membuat jadwal harus menepati jadwal
tersebut. Pembuatan jadwal yang baik yaitu jadwal yang jujur, sesuai
dengan kemampuan, bukan jadwal yang bagus. Akan percuma saja
membuat jadwal yang bagus dan terinci jika pada akhirnya tidak dapat
dijalani. Seseorang harus dapat membuat skala prioritas. Hal ini berkaitan
dengan komitmen dan tanggung jawab seseorang terhadap pekerjaannya.

d. Evaluasi
Jadwal yang dibuat terlalu longgar dalam artian sering dapat
ditepati dalam waktu yang lebih singkat daripada target, ada baiknya
jadwal dipadatkan. Dengan begitu akan didapat jadwal kosong yang dapat
dimanfaatkan untuk kegiatan lain.
Ada kalanya jadwal yang telah dibuat berantakan begitu saja. Pada
akhirnya, sang pembuat jadwal stress karena kegagalannya menepati
jadwal dan tumpukan pekerjaan yang terus menggunung. Jika hal ini yang
terjadi, coba dilihat dahulu, apa yang menyebabkan kegagalan tersebut.

e. Penggunaan Alat Bantu
Pengaturan waktu dapat dipermudah pelaksanaanya dengan
digunakannya alat bantu. Alat yang paling sederhana adalah agenda.
Agenda berfungsi sebagai tempat mencatat jadwal dan daftar kegiatan.
Dengan adanya agenda, seseorang dapat memeriksa dulu jadwalnya
sebelum membuat janji baru. Hal ini berguna untuk menghindari
bentroknya jadwal.
Pada era digital sekarang ini, fungsi agenda sudah banyak
digantikan oleh telepon selular (ponsel) dan personal digital
asisstant (PDA). Sebagian besar ponsel dan PDA yang beredar di pasaran
saat ini sudah memasukkan fungsi agenda. Hal ini memudahkan
penggunanya karena ia cukup membawa ponsel dan PDA sebagai
pengganti agenda.






BAB III: Penelitian
Pengambilan Data

Penelitian tentang Kreativitas Mahasiswa Dalam Memilih Kegiatan Untuk Mengisi Waktu Luang, kami melakukan penelitian dengan metode wawancara kepada 5 partisipan yang kami pilih untuk menjelaskan kreativitas mereka dalam memilih kegiatan utnuk mengisi waktu luang.
Kami meneliti dengan menggunakan perekam suara dari smartphone kami.
14384499264831438449853957143844985575614384498602221438449890256




BAB IV
Hasil Penelitian
1. Responden pertama menjawab:
Cara saya mengisi waktu luang dengan berkumpul teman-teman seperti biasanya. Karena saya dapat merasakan berkumpul dengan teman membuat pikiran jernih dan tingkat solidaritas meningkat.
2. Responden kedua menjawab:
Cara saya dengan memilih kegiatan yang berkualitas meskipun butuh budget lebih karena kegiatan yg berkualitas menurut saya harga takan menipu seperti kegiatan kepulau private yang belum pernah saya jumpai.
3. Responden ketiga menjawab:
Cara saya mengisi waktu luang dengan budget yg murah seperti ke tempat yg banyan di rekomendasikan temen yg saya tanyakan, Dan harganya murah seperti kepulauan seribu sekalian mencari pengalaman baru
4. Responden keempat menjawab:
Cara saya memilih kegiatan dengan jalan jalan yg tidak direncanakan sebelumnya ke tempat yg mudah di capai yg saya sudah tahu sebelumnya sepeti puncak
5. Responden kelima menjawab:
Cara saya memilih kegiatan yaitu dengan searching di media sosial yg sudah terkenal Dan mudah di capai seperti kota tua Dan dufan
Hasil yang kami peroleh setelah mewawancarai 5 partisipan, kebanyakan dari mereka melakukan kegiatan yang belum pernah mereka lakukan sama sekali dan mereka menjelaskan kepada kami mereka mengetahui kegiatan tersebut dari searching dan recommend dari  teman-teman mereka. Sebagian lagi mereka hanya melakukan hal yang sudah pernah mereka lakukan tetapi ada sedikit pengembangan kegiatan agar tidak jenuh.



BAB V
KESIMPULAN

Demikian makalah tentang kreativitas seorang mahasiswa mengenai cara dan pendukung untuk memilih kegiatan untuk mengisi waktu luang yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Kesimpulan
Jadi pada dasarnya elemen dasar dalam memilih kegiatan untuk mengisi waktu luang yang kreatif timbul karena pemikiran kreatif seseorang, cara menggunakan dan referensi kegiatan mengisi waktu luang. Dengan mengetahui kinerja 3 hal tersebut
diharapkan dapat benar-benar mengetahui bagaimana memilih kegiatan dengan lebih efektif dan efesien.


DAFTAR PUSTAKA
http://say2revolution.wordpress.comwww.total.or.id
http://sharahhanifah.blogspot.com/2015/03/pengertian-kreativitas-dan-teori.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar