BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Ada banyak
hal yang dapat kita lakukan semasa hidup kita. Berapa banyak nafas yang kita
hembuskan, sebanyak itu pula waktu kita telah berlalu. Ini bukan masalah yang
remeh, tapi ini akan menjadi sejarah hidup kita dan akan dipelajari oleh
generasi setelah kita.
Waktu
memang selalu berjalan dan akan terus berjalan. Waktu tidak dapat diciptakan
oleh manusia, tapi waktu bisa kita manfaatkan bersama. Begitu banyak waktu yang
ada di kehidupan kita, tapi pertanyaannya adalah berapa persen waktu yang telah
kita memanfaatkan untuk kemajuan diri kita.
Waktu
yang telah berlalu dan terbuang sia-sia jangan dilanjutkan dengan menyesal yang
berlarut. Ternyata waktu yang berlalu itu dapat kita manfaatkan kembali yaitu
menggunakannya sebagai bahan pelajaran untuk upaya kita menjadi lebih maju.
Sebenarnya waktu luang itu bukanlah berhentinya suatu aktifitas. Ukuran
tersebut terlalu sempit untuk menilai waktu luang. Waktu luang adalah dimana
kita sedang tidak melakukan suatu aktifitas tertentu.
Maka dari itu kami
sangat tertarik dengan judul permasalahan yang kami tulis yaitu ”Kreativitas
Mahasiswa Dalam Memilih Kegiatan Untuk Mengisi Waktu Luang” untuk dapat
memahami mengenai kreativitas mahasiswa dalam memilih cara untuk memilih kegiatan
dalam mengisi waktu luang dan perkembangan kreativitas mahasiswa serta
kapasitas komponen-komponen pendukung pemikiran kreatif.
1.2
Rumusan Masalah
Bagaimanakah
kreatifitas mahasiswa dalam memilih aktivitas untuk mengisi waktu luang?
Dasar Teori
A. PENGERTIAN KREATIVITAS
Walaupun ada pengakuan ilmiah
terhadap pentingnya kreativitas, namun hingga kini hanya sedikit sekali
penelitian yang telah dilakukan. Hal itu disebabkan adanya kesulitan metodologi
dan karena adanya keyakinan bahwa kreativitas adalah suatu faktor bawaan
individual sehingga hanya sedikit yang dapat dilakukan untuk mengendalikannya.
Beberapa pengertian kreativitas
menurut para ahli, diantaranya ;
a. Utami
Munandar (1995 : 25) kreativitas adalah suatu kemampuan umum untuk
menciptakan suatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan
baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan
untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada
sebelumnya.
b. Imam
Musbikin (2006 : 6) kreativitas adalah kemampuan memulai ide, melihat
hubungan yang baru, atau tak diduga sebelumnya, kemampuan memformulasikan
konsep yang tak sekedar menghafal, menciptakan jawaban baru untuk soal-soal
yang ada, dan mendapatkan pertanyaan baru yang perlu di jawab.
c. Mangunhardjana (1986
: 11) adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya berguna (useful),
lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan,
mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan,
mendatangkan hasil lebih baik atau banyak.
d. Sternberg (1988),
kreativitas merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis,
yaitu intelegensi, gaya kognitif, dan kepribadian/motivasi.
e. Baron (1969)
yang menyatakan kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan atau
menciptakan sesuatu yang baru.
f. Supriyadi dalam
Yeni Rachmawati dan Euis Kurniati (2005 : 15) mengutarakan bahwa kreativitas
adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa
gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada.
Selanjutnya ia menambahkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan berpikir
tingkat tinggi yang mengimplikasikan terjadinya eskalasi dalam kemampuan
berpikir, ditandai oleh suksesi, diskontinuitas, diverensiasi, dan integrasi
antara setiap tahap perkembangan.
g. Clark
Moustakis (1967), ahli psikologi humanistic menyatakan bahwa
kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas
individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam,
dan dengan orang lain.
h. Rhodes,
umumnya kreativitas didefinisikan sebagai Person, Process, Press, Product.
Keempat P ini saling berkaitan, yaitu Pribadi (Person) kreatif yang melibatkan
diri dalam proses (Process) kreatif, dan dengan dorongan dan dukungan (Press)
dari lingkungan, menghasilkan produk (Product) kreatif.
i. Hulbeck (1945),
“ Creative action is an imposing of one’s own whole personality on the
environment in an unique and characteristic way”. Dimana tindakan kreatif
muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan
lingkungannya.
j. Haefele (1962),
kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang
mempunyai makna social.
k. Torrance (1988),
kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat
dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan menguji dugaan atau
hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan
hasil-hasilnya.
Dari berbagai pengertian yang
dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan makna dari kreativitas penulis
mengambil kesimpulan bahwa kreativitas adalah kemampuan menciptakan sesuatu
yang baru, proses konstuksi ide yang dapat diterapkan dalam menyelesaikan
masalah, serta suatu kegiatan yang bermanfaat.
Adapun Definisi kreativitas
tergantung pada segi penekanannya, kreativitas dapat didefinisikan kedalam
empat jenis dimensi sebagai Four P’s Creativity, yaitu dimensi Person,Proses,
Press dan Product sebagai berikut :
1.
Definisi kreativitas dalam dimensi Person. Definisi pada dimensi person adalah
upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada individu atau person dari
individu yang dapat disebut kreatif. “Creativity refers to the abilities that
are characteristics of creative people” (Guilford, 1950 dalam Reni Akbar-Hawadi
dkk, 2001). “Creative action is an imposing of one’s own whole personality on
the environment in an unique and characteristic way
(Hulbeck, 1945 dikutip Utami Munandar, 1999). Guilford menerangkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan atau kecakapan yang ada dalam diri seseorang, hal ini erat kaitannya dengan bakat. Sedangkan Hulbeck menerangkan bahwa tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi kreativitas dari dua pakar diatas lebih berfokus pada segi pribadi.
(Hulbeck, 1945 dikutip Utami Munandar, 1999). Guilford menerangkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan atau kecakapan yang ada dalam diri seseorang, hal ini erat kaitannya dengan bakat. Sedangkan Hulbeck menerangkan bahwa tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi kreativitas dari dua pakar diatas lebih berfokus pada segi pribadi.
2.
Kreativitas dalam dimensi Process. Definisi pada dimensi proses upaya
mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada proses berpikir sehingga
memunculkan ide-ide unik atau kreatif. “Creativity is a process that manifest
in self in fluency, in flexibility as well in originality of thinking”
(Munandar, 1977 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001). Utami Munandar menerangkan
bahwa kreativitas adalah sebuah proses atau kemampuan yang mencerminkan
kelancaran, keluwesan (fleksibititas), dan orisinalitas dalam berpikir, serta
kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci), suatu gagasan.
Pada definisi ini lebih menekankan pada aspek proses perubahan (inovasi dan
variasi). Dari pendapat diatas kreativitas sebagai sebuah proses yang terjadi
didalam otak manusia dalam menemukan dan mengembangkan sebuah gagasan baru yang
lebih inovatif dan variatif (divergensi berpikir).
3.
Definisi Kreativitas dalam dimensi Press. Definisi dan pendekatan kreativitas
yang menekankan faktor press atau dorongan, baik dorongan internal diri sendiri
berupa keinginan dan hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif,
maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis. Definisi
Simpson (1982) dalam S. C. U. Munandar 1999, merujuk pada aspek dorongan
internal dengan rumusannya sebagai berikut : “The initiative that one manifests
by his power to break away from the usual sequence of thought”
Mengenai “press” dari lingkungan, ada lingkungan yang menghargai imajinasi dan fantasi, dan menekankan kreativitas serta inovasi. Kreativitas juga kurang berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan tradisi, dan kurang terbukanya terhadap perubahan atau perkembangan baru.
Mengenai “press” dari lingkungan, ada lingkungan yang menghargai imajinasi dan fantasi, dan menekankan kreativitas serta inovasi. Kreativitas juga kurang berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan tradisi, dan kurang terbukanya terhadap perubahan atau perkembangan baru.
4.
Definisi Kreativitas dalam dimensi Product. Definisi pada dimensi produk
merupakan upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada produk atau apa
yang dihasilkan oleh individu baik sesuatu yang baru/original atau sebuah
elaborasi/penggabungan yang inovatif. “Creativity is the ability to bring
something new into existence” (Baron, 1976 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001)
Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan pada orisinalitas, seperti yang dikemukakan oleh Baron (1969) yang menyatakan bahwa kreatifitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula menurut Haefele (1962) dalam Munandar, 1999; yang menyatakan kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial. Dari dua definisi ini maka kreatifitas tidak hanya membuat sesuatu yang baru tetapi mungkin saja kombinasi dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan pada orisinalitas, seperti yang dikemukakan oleh Baron (1969) yang menyatakan bahwa kreatifitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula menurut Haefele (1962) dalam Munandar, 1999; yang menyatakan kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial. Dari dua definisi ini maka kreatifitas tidak hanya membuat sesuatu yang baru tetapi mungkin saja kombinasi dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
Dari berbagai pengertian yang
dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan makna dari kreativitas yang dikaji
dari empat dimensi yang memberikan definisi saling melengkapi. Untuk itu kita
dapat membuat berbagai kesimpulan mengenai definisi tentang kreativitas dengan
acuan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli.
Dari beberapa uraian mengenai
definisi kreativitas yang dikemukakan diatas peneliti menyimpulkan bahwa :
“Kreativitas adalah proses konstruksi ide yang orisinil (asli), bermanfaat,
variatif (bernilai seni) dan inovatif (berbeda/lebih baik)”.
B. KONSEP DASAR KREATIVITAS BERDASAR
4 P
Strategi 4P yaitu Pribadi,
Pendorong, Proses, dan Produk yang menurut para ahli dapat membantu
mengembangkan kreatifitas anak jika diterapkan secara benar. Pada dasarnya
setiap anak memiliki kreativitas, hanya saja tidak semua anak bisa
mengembangkan kreatifitasnya dengan benar. Untuk itu diperlukan peran orang tua
dalam mengembangkan kreatifitas tersebut. Melalui strategi 4P ini diharapkan
dapat membantu orang tua dalam mengembangkan kreativitas anaknya.
Pribadi
Hal pertama yang harus orang tua ketahui dalam upaya mengembangkan kreatifitas anak adalah dengan memahami pribadi mereka, diantaranya dengan :
·
Memahami bahwa setiap anak memiliki
pribadi berbeda, baik dari bakat, minat, maupun keinginan.
·
Menghargai keunikan kreativitas yang
dimiliki anak, dan bukan mengharapkan hal-hal yang sama antara satu anak dengan
anak lainnya, karena setiap anak adalah pribadi yang “unik”, dan kreatifitas
juga merupakan sesuatu yang unik.
·
Jangan membanding-bandingkan anak
karena tiap anak memiliki minat, bakat, kelebihan serta ketebatasannya
masing-masing. Pahamilah kekurangan anak dan kembangkanlah bakat dan kelebihan
yang dimilikinya.
Pendorong
Dorongan dan motivasi bagi anda sangat berguna bagi anak dalam mengembangkan motivasi instrinsik mereka, dengan begitu mereka akan sendirinya berkreasi tanpa merasa dipaksa dan dituntut ini itu, kita dapat melakukan :
Dorongan dan motivasi bagi anda sangat berguna bagi anak dalam mengembangkan motivasi instrinsik mereka, dengan begitu mereka akan sendirinya berkreasi tanpa merasa dipaksa dan dituntut ini itu, kita dapat melakukan :
·
Berilah fasilitas dan sarana bagi
mereka untuk berkreasi, misalnya melalui mainan-mainan yang bisa merangsang
daya kreativitas anak misalnya balok-balok susun, lego, mainan alat dapur dan
sebagainya. Hindari memberikan mainan yang tinggal pencet tombol atau mainan
langsung jadi.
·
Ciptakan lingkungan keluarga yang
mendukung kreatifitas anak dengan memberikan susana aman dan nyaman.
·
Hindari membatasai ruang gerak anak
didalam rumah karena takut ada barang-barang yang pecah atau rusak, karena cara
ini justru bisa memasung kreativitas mereka, alangkah lebih baik jika anda mau
mengalah dengan menyimpan dahulu barang-barang yang mudah pecah ketempat yang
aman, atau anda bisa meyediakan tempat khusus bermain anak, dimana anak bebas
berkreasi.
·
Disiplin tetap diperlukan agar
ide-ide kreatif mereka bisa terwujud.
Proses
Proses berkreasi merupakan bagian paling penting dalam pengembangan kreativitas dimana anak anda akan merasa mampu dan senang bersibuk diri secara kreatif dengan aktifitas yang dilakukannya, baik melukis, menyusun balok, merangkai bunga dan sebagainya, beberapa hal yang dapat dilakukan:
Proses berkreasi merupakan bagian paling penting dalam pengembangan kreativitas dimana anak anda akan merasa mampu dan senang bersibuk diri secara kreatif dengan aktifitas yang dilakukannya, baik melukis, menyusun balok, merangkai bunga dan sebagainya, beberapa hal yang dapat dilakukan:
·
Hargailah kreasinya tanpa perlu
berlebihan, karena secara intuisif anak akan tahu mana pujian yang tulus dan
yang mana yang hanya akan basa-basi.
·
Hindari memberi komentar negatif
saat anak berkreasi, apalagi disertai dengan perintah ini itu terhadap karya
yang sedang dibuatnya, karena hal ini justru dapat menyurutkan semangatnya
berkreasi.
·
Peliharalah harga diri anak dengan
mengungkapkan terlebih dahulu komentar anda secara positif, misalnya “bunda
senang adek bisa membuat menara seperti itu, lain kali adek buat yang lebih
tinggi dan tidak mudah ambruk ya.” Dengan demikian anak akan merasa dirinya
mampu dan dihargai lingkungannya
Produk
Pada tahap ini anak sudah bisa menghasilkan produk kreatif mereka, yang bisa dilakukan:
Pada tahap ini anak sudah bisa menghasilkan produk kreatif mereka, yang bisa dilakukan:
·
Hargailah hasil kreatifitas mereka
meski hasilnya agak kurang memuaskan.
·
Pajanglah karya anak anda di kamar
mereka atau tempat-tempat lain yang memungkinkan. Dengan demikian, anak akan
merasa bangga karena karyanya dihargai.
TEORU MENGENAI KREATIVITAS :
C. TEORI PEMBENTUKAN PRIBADI KREATIF
:
a. Teori Psikoanalisa
Psikoanalisa memandang kreativitas
sebagai hasil mengatasi suatu masalah, yang biasanya dimulai sejak di masa
anak-anak. Priadi kreatif dipandang sebagai seseorang yang pernah mempunyai
pengalaman traumatis, yang dihadapi dengan memungkinkan gagasan-gagasan yang
disadari dan yang tidak disadari bercampur menjadi pemecahan inovatif dari
trauma.
Adapun tokoh-tokohnya adalah:
Sigmund Freud. Ia menjelaskan proses
kreatif dari mekanisme pertahanan, yang merupakan upaya tak sadar untuk menghindari
kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau yang tidak dapat
diterima. Sehingga biasanya mekanisme pertahanan merintangi produktivitas
kreatif. Meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif,
namun justru mekanisme sublimasi justru merupakan penyebab utama dari
kreativitas.
Ernest Kris. Ia menekankan bahwa
mekanisme pertahanan regresi (beralih ke perilaku sebelumnya yang akan memberi
kepuasaan, jika perilaku sekarang tidak berhasil atau tidak memberi kepuasaan)
juga sering muncul dalam tindakan kreatif.
Carl Jung. Ia juga percaya bahwa
ketidaksadaran memainkan peranan yang amat penting dalam kreativitas tingkat
tinggi. Alam pikiran yang tidak disadari dibentuk oleh masa lalu pribadi.
Dengan adanya ketidaksadaran kolektif, akan timbul penemuan, teori, seni, dan
karya-karya baru lainnya. Prose inilah yang menyebabkan kelanjutan dari
eksistensi manusia.
b. Teori Humanistik
Humanistik lebih menekankan
kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi. Dan
kreativitas dapat berkembang selama hidup dan tidak terbatas pada usia lima
tahun pertama.
Abraham Maslow. Ia menekankan bahwa
manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan.
Kebutuhan-kebutuhan itu, diwujudkan Maslow sebagai hirarki kebutuhan manusia,
dari yang terendah hingga yang tertinggi.
Carl Rogers. Ia menjelaskan ada 3
kondisi dari pribadi yang kreatif, adalah keterbukaan terhadap pengalaman,
kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan Patokan pribadi seseorang, kemampuan
untuk bereksperiman atau untuk ‘bermain’ dengan konsep-konsep.
C. Teori
Cziksentmihalyi
Ciri pertama yang memudahkan tumbuhnya kreativitas adalah Predisposisi genetis (genetic predispotition). Contoh seorang yang system sensorisnya peka terhadap warna lebih mudah menjadi pelukis, peka terhadap nada lebih mudah menjadi pemusik.
a. Minat pada usia dini pada ranah tertentu:
Minat menyebabkan
seseorang terlibat secara mendalam terhadap ranah tertentu, sehingga mencapai
kemahiran dan keunggulan kreativitas.
b. Akses terhadap suatu bidang:
Adanya sarana dan
prasarana serta adanya pembina/mentor dalam bidang yang diminati
sangat membantu pengembangan bakat.
c. Access to a field:
Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sejawat + tokoh-tokoh
penting dalam bidang yang digeluti, memperoleh informasi yang terakhir,
mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan pakar-pakar dalam b idang yang
diminati sangat penting untuk mendapatkan pengakuan + penghargaan dari orang-orang
penting.
Orang-orang kreatif ditandai adanya kemampuan mereka yang luar biasa untuk menyesuaikan diri terhadap hampir setiap situasi dan untuk melakukan apa yang perlu untuk mencapau tujuannya.
Orang-orang kreatif ditandai adanya kemampuan mereka yang luar biasa untuk menyesuaikan diri terhadap hampir setiap situasi dan untuk melakukan apa yang perlu untuk mencapau tujuannya.
1.
Definisi Waktu Luang
Dalam bahasa Inggris waktu luang dikenal dengan sebutan leisure. Kata leisure sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu licere yang berarti diizinkan (To be Permited) atau menjadi bebas (To be Free). Kata lain dari leisure adalah loisir yang berasal dari bahasa Perancis yang artinya waktu luang (Free Time), George Torkildsen (Januarius Anggoa, 2011).
Dalam bahasa Inggris waktu luang dikenal dengan sebutan leisure. Kata leisure sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu licere yang berarti diizinkan (To be Permited) atau menjadi bebas (To be Free). Kata lain dari leisure adalah loisir yang berasal dari bahasa Perancis yang artinya waktu luang (Free Time), George Torkildsen (Januarius Anggoa, 2011).
Berdasarkan
teori dari George Torkildsen dalam bukunya yang berjudul leisure and recreation
management (Januarius Anggoa, 2011) definisi berkaitan dengan leisure antara
lain:
a.
Waktu luang sebagai waktu (leisure as time)
Waktu
luang digambarkan sebagai waktu senggang setelah segala kebutuhan yang mudah
telah dilakukan. Yang mana ada waktu lebih yang dimiliki untuk melakukan segala
hal sesuai dengan keinginan yang bersifat positif. Pernyataan ini didukung oleh
Brightbill yang beranggapan bahwa waktu luang erat kaitannya dengan kaitannya
dengan kategori discretionary time, yaitu waktu yang digunakan menurut
pemilihan dan penilaian kita sendiri.
b.
Waktu luang sebagai aktivitas (leisure as activity)
Waktu
luang terbentuk dari segala kegiatan bersifat mengajar dan menghibur pernyataan
ini didasarkan pada pengakuan dari pihak The International Group of the Social
Science of Leisure, menyatakan bahwa:
“waktu
luang berisikan berbagai macam kegiatan yang mana seseorang akan mengikuti
keinginannya sendiri baik untuk beristirahat, menghibur diri sendiri, menambah
pengetahuan atau mengembangkan keterampilannya secara objektif atau untuk
meningkatkan keikutsertaan dalam bermasyarakat.
c.
Waktu luang sebagai suasana hati atau mental yang positif (leisure as an end in
itself or a state of being)
Pieper
beranggapan bahwa:“Waktu luang harus dimengerti sebagai hal yang berhubungan
dengan kejiwaan dan sikap yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, hal ini
bukan dikarenakan oleh faktor-faktor yang datang dari luar. Hal ini juga bukan
merupakan hasil dari waktu senggang, liburan, akhir pekan, atau liburan
panjang.
d.
Waktu luang sebagai sesuatu yang memiliki arti luas (leisure as an all embracing)
Menurut
Dumadezirer, waktu luang adalah relaksasi, hiburan, dan pengembangan diri.
Dalam ketiga aspek tersebut, mereka akan menemukan kesembuhan dari rasa lelah,
pelepasan dari rasa bosan, dan kebebasan dari hal-hal yang bersifat
menghasilkan. Dengan kata lain, waktu luang merupakan ekspresi dari seluruh
aspirasi manusia dalam mencari kebahagiaan, berhubungan dengan tugas baru,
etnik baru, kebijakan baru, dan kebudayaan baru.
e.
Waktu luang sebagai suatu cara untuk hidup (leisure as a way of living)
Seperti
yang dijelaskan oleh Goodale dan Godbye dalam buku The Evolution Of Leisure :
“Waktu luang adalah suatu kehidupan yang bebas dari tekanan-tekanan yang
berasal dari luar kebudayaan seseorang dan lingkungannya sehingga mampu untuk bertindak
sesuai rasa kasih yang tak terelakkan yang bersifat menyenangkan, pantas, dan
menyediakan sebuah dasar keyakinan”.
Hal
senada juga diungkapkan oleh Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007) yang melihat
arti istilah waktu luang dari 3 dimensi, yaitu:
a.
Dilihat dari dimensi waktu, waktu luang dilihat sebagai waktu yang tidak
digunakan untuk bekerja mencari nafkah, melaksanakan kewajiban, dan
mempertahankan hidup.
b.
Dari segi cara pengisian, waktu luang adalah waktu yang dapat diisi dengan
kegiatan pilihan sendiri atau waktu yang digunakan dan dimanfaatkan sesuka
hati.
c.
Dari sisi fungsi, waktu luang adalah waktu yang dimanfaatkan sebagai sarana
mengembangkan potensi, meningkatkan mutu pribadi, kegiatan terapeutik bagi yang
mengalami gangguan emosi, sebagai selingan hiburan, sarana rekreasi, sebagai kompensasi
pekerjaan yang kurang menyenangkan, atau sebagai kegiatan menghindari sesuatu.
Dengan
banyaknya definisi waktu luang, dapat disimpulkan bahwa waktu luang adalah
waktu yang mempunyai posisi bebas penggunaannya dan waktu tersebut berada
diluar kegiatan rutin sehari-hari sehingga dapat dimanfaatkan secara positif
guna meningkatkan produktifitas hidup yang efektif dan pengisian waktu luang
dapat diisi dengan berbagai macam kegiatan yang mana seseorang akan mengikuti keinginannya
sendiri baik untuk beristirahat, menghibur diri sendiri, menambah pengetahuan
atau mengembangkan keterampilannya secara objektif.
Mengisi
waktu luang bagi remaja terutama siswa yaitu waktu yang terdapat pada siswa
diluar jam pelajaran sekolah dan dapat diisi dengan kegiatan relaksasi atau
istirahat, kegiatan hiburan atau rekreasi, dan kegiatan pengembangan diri
sesuai dengan pilihan sendiri sehingga akan timbul suatu kesembuhan dari rasa
capek dan melepaskan dari rasa bosan.
2.
Manfaat Mengisi Waktu Luang
Orang
yang menggunakan waktu secara efisien dan kreatif akan memperoleh banyak
keuntungan, misalnya mereka dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu,
sehingga ada waktu untuk memulihkan kebugaran fisik dan mental, rekreasi, dan
interaksi sosial.
Manfaat
mengisi waktu luang yaitu menurut Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007) yaitu:
a.
Bisa meningkatkan kesejahteraan jasmani.
b.
Meningkatkan kesegaran mental dan emosional.
c.
Membuat kita mengenali kemampuan diri sendiri.
d.
Mendukung konsep diri serta harga diri.
e.
Sarana belajar dan pengembangan kemampuan.
f.
Pelampiasan ekspresi dan keseimbangan jasmani, mental, intelektual, spiritual,
maupun estetika.
g.
Melakukan penghayatan terhadap apa yang anda sukai tanpa tidak mempedulikan
segi materi.
Selain
itu mengisi waktu luang juga berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan sosial,
seperti :
a.
Meningkatkan daya kerja sehingga memacu prestasi dan produktivitas.
b.
Menambah konsumsi sehingga meningkatkan lapangan kerja.
c.
Mengurangi kriminalitas dan kenakalan.
d.
Meningkatkan kehidupan bermasyarakat.
Manfaat
mengisi waktu luang bisa dirasakan bila pemanfaatan waktu luang sesuai dengan
kebutuhan. Berikut akan dipaparkan mengenai manfaat pentingnya waktu luang
untuk kesehatan jasmani, kesehatan rohani, sosialisasi diri dimasyarakat,
kestabilan ekonomi, dan kesuksesan manajemen.
a.
Waktu luang untuk kesehatan jasmani
Dalam
hal ini dengan waktu luang akan bisa menikmati kesegaran kembali, sebagaimana
keadaan urat syaraf bebas dari ketegangan. Pemanfaatan waktu luang untuk
meningkatkan kesehatan diantaranya:
1)
Membiasakan berolahraga.
2)
Makan makanan ringan yang akan memberikan semangat.
3)
Mengendurkan urat-urat syaraf dengan bersantai.
4)
Menjauhi tempat keramaian yang dapat menimbulkan kebisingan di sekitar tempat
beraktifitas (Yusuf Michael As’ad, 2003: 19-20).
b.
Waktu luang untuk kesehatan rohani
Seseorang
bisa berinteraksi dengan dua obyek yaitu obyek ekstern dan obyek intern.
Individu yang melakukan sesuatu maka akan berkonsentrasi pada realita luar yang
memberi efek pada tindakannya tersebut. Jika hal itu terjadi maka seseorang
akan mengalami gangguan jiwa. Aktivitas kejiwaan agar individu paham dan membiasakannya
sehingga memiliki kesehatan yang baik, yaitu:
1)
Autokritik atau introspeksi diri.
2)
Memberi solusi terhadap problema dan hambatan.
3)
Menentukan tujuan yakni menyusun tujuannya atau tujuan yang baru.
4)
Membuat rencana baru dan mengganti rencana lama.
5)
Mencari pengalaman baru (Yusuf Michael As’ad, 2003: 23-26).
c.
Waktu luang untuk sosialisasi diri di masyarakat
Dalam
interaksi sosial baik skala individu maupun kelompok sebagaimana membutuhkan
waktu luang yang dapat memperbaharui potensi dan kesiapan berinteraksi dengan
yang lainnya. Pentingnya waktu luang yang sesuai dan cukup untuk merealisasikan
keharmonisan social dalam hubungan sosial, yaitu:
1)
Menilai hubungan sosial dengan mengevaluasi yang berkembang antara dia dan
orang yang ada disekelilingnya sesuai dengan opininya.
2)
Menilai strata sosial yang dimiliki seseorang dalam satu komunitas.
3)
Memprediksi masa depan.
4)
Merencanakan masa depan.
5)
Menyiapkan media aplikasi yang sesuai (Yusuf Michael As’ad, 2003: 31-34).
d.
Waktu luang untuk kestabilan ekonomi
Seseorang
yang menggunakan waktu luang maka ia dapat mengevaluasi kondisi ekonominya,
yaitu dengan mengevaluasi pemasukan dan pengeluaran serta menekan pengeluaran
(Yusuf Michael As’ad, 2003: 39).
e.
Waktu luang untuk kesuksesan manajemen
Waktu
luang dipergunakan untuk berkomunikasi dengan oarng lain, bekerja sama dengan
mereka, bersama-sama memikul tanggung jawab dan bangkit bersama mereka akan
dapat meminimalisir ketegangan. Waktu luang dipergunakan juga menyusun strategi
manajemen baru sehingga bisa mengoreksi diri dan mengatur pekerjaan (Yusuf
Michael As’ad, 2003: 43).
3.
Kegiatan Waktu Luang
Berdasarkan
definisi teori waktu luang yaitu waktu luang sebagai aktivitas yaitu waktu yang
berisikan berbagai macam kegiatan baik untuk beristirahat, menghibur diri sendiri,
menambah pengetahuan serta menggunakan keterampilan secara objektif untuk
meningkatkan keikutsertaan dalam bermasyarakat setelah melepaskan diri dari
segala pekerjaan rutinnya, keluarga dan lingkungan sosial dan waktu luang
sebagai relaksasi, hiburan, dan pengembangan diri. Beberapa kegiatan mengisi
waktu luang diantaranya:
a.
Relaxation Activity (Kegiatan Relaksasi)
Menurut
Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007) kegiatan relaksasi diantaranya kegiatan
relaksasi aktif misalnya: membetulkan alat rumah tangga atau berbenah rumah,
memperbaiki sepeda motor. Kegiatan tersebut sifatnya produktif cenderung
meningkatkan ketrampilan dan harga diri. Selain itu bisa melakukan relaksasi
pasif dengan cara menonton televisi, mendengarkan musik, dan membaca tulisan
ringan. Namun terlalu banyak melakukan kegiatan relaksasi pasif akan membuat
kehilangan waktu untuk kegiatan yang lebih produktif.
b.
Entertainment Activity (Kegiatan Hiburan) Fine, Mortimer, & Robert
(Broderick & Blewitt, 2006), menyebutkan bahwa kegiatan hiburan atau
rekreasi dapat mempromosikan penguasaan keterampilan, seperti olahraga partisipasi,
hobi, dan kesenian atau mungkin lebih murni rekreasi seperti bermain video
game, melamun atau nongkrong dengan teman-teman. Menurut Ahmad H. Kanzun (2002:
68) Kegiatan olahraga termasuk dalam salah satu kegiatan yang positif dan
terarah. Karena dengan berolahraga, remaja dapat menjaga kondisi tubuhnya agar
selalu sehat dan dapat melakukan segala aktifitasnya.
Selanjutnya
menurut penggolongan ahli pengetahuan hobi Margaret E. Mulac Hobbies: The
Creative Use of Leisure (1959), (The Liang Gie , 1996: 99-100), ada 4 macam
hobi, yaitu:
1)
Making Hobbies (Membikin)
Ini
meliputi berbagai seni kerajinan seperti misalnya kegiatan pahat, ukir,
kerajinan emas-perak, keramik, tenun, dan fotografi.
2)
Learning Hobbies (Belajar)
Ini
meliputi segala macam bentuk belajar seperti misalnya mempelajari sejarah,
karang-mengarang, atau bahasa asing.
3)
Doing Hobbies (Melakukan)
Ini
meliputi segala macam bentuk melakukan sesuatu hal, misalnya menyanyi, menari, memainkan
alat musik, berkebun, dan aneka hobi alam (misalnya mengamati burung atau
memelihara ikan hias).
4)
Collectting Hobbies (Mengumpulkan)
Ini
meliputi kegiatan mengumpulkan bermacam-macam benda seperti perangko, mata
uang, buku antik, dan batu-batuan.
c.
Personal Development Activity (Kegiatan Pengembangan Diri)
Pengembangan
diri termasuk kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan identitas, mengembangkan
bakat dan potensi, membangun modal manusia, dan memfasilitasi kerja, meningkatkan
kualitas hidup dan berkontribusi pada realisasi mimpi dan aspirasi serta rohani
pengembangan
(Anonim, 2009).
Berteman,
bergaul dan mengikuti aktivitas disekitar rumah atau sekolah atau kegiatan yang
berhubungan dengan kesiapannya menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi (misalnya
pergi keperpustakaan, latihan soal-soal). Menurut Soetarlinah Sukadji
(Triatmoko, 2007), mengikuti kursus musik, kelompok teater, kursus bahasa
asing, melukis, mengarang, membuat sajak, memasak, menata musik, membuat
patung. Kegiatan ini selain meningkatkan ketrampilan, juga menimbulkan perasaan
kesuksesan. Menurut Ahmad H. Kanzun (2002: 36) Mengikuti kegiatan masjid yang
merupakan pusat kegiatan keislaman dalam mengasah wawasan dan menambah
pengetahuan dibidang keagamaan sebagai pedoman hidup. Selain itu, mengikuti
kegiatan kemasyarakatan (Ahmad H. Kanzun, 2002: 59) membentuk remaja sebagai
generasi muda yang berkualitas, sangat diharapkan untuk dapat ikut berpartisipasi
aktif dalam mengikuti segala kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dengan niat dan
semangat yang positif. Dengan kegiatan tersebut diharapkan dapat mempererat
tali persaudaraan
antar
sesama dan menumbuhkan rasa solidaritas. Kenyataannya dikalangan remaja
menunjukkan adanya pemanfaatan waktu luang secara serampangan saja, tanpa
adanya perencanaan yang matang, pengawasan maupun pengarahan. Hal itu yang
menyebabkan fenomena negatif jarangnya siswa aktif dalam kegiatan-kegiatan
kesiswaan yang teratur dan terarah adalah lemahnya upaya penyadaran akan
urgensi kegiatan tersebut dan dampak pendidikannya dalam membentuk kepribadian dan
perilaku siswa, disamping faktor-faktor lain seperti buruknya pengelolaan sebagian
pengemban misi pendidikan yang menunjang kreativitas, monotonnya kegiatan
ataupun minimnya hal-hal yang mendukung. Ahmad H. Kanzun (2002: 76-84) mengungkapkan
beberapa kegiatan yang tidak terarah yang banyak dilakukan oleh remaja dalam
mengisi waktu luangnya antara lain:
a.
Tamasya bersama kawan-kawan yang berakhlak buruk di tempat-tempat tujuan wisata
tanpa control.
b.
Menghabiskan malam dengan begadang di tempat-tempat hiburan seperti bar,
diskotik, dan lain-lain.
c.
Terjerumus dalam permainan yang mengesampingkan aspek pendidikan maupun waktu.
d.
Bermain dadu, kartu ataupun sejenis judi lainnya.
e.
Keluyuran di jalan-jalan besar besar ataupun pasar-pasar tanpa alasan dan
tujuan yang bermanfaat.
f.
Nongkrong dikedai-kedai minuman atau dipinggir-pinggir jalan sambal merokok.
4.
Permasalahan dalam Pemanfaatan Waktu Luang
Permasalahan
yang biasa ditemukan dalam pemanfaatan waktu luang ini disebabkan oleh beberapa
faktor, diantaranya:
a.
Remaja cenderung tidak menyukai pemanfaatan wakru luang dengan
sesuatu
yang menurutnya menuntut pemikiran dan beban target.
Strategi
yang bisa diambil oleh orang tua atau guru adalah dengan
memberikan
kegiatan yang diminati oleh anak tersebut. Sekolah bisa
menyiapkan
saran prasarana (ekstrakurikuler) dan permainan yang bisa
dimanfaatkan
siswa untuk bermain. Di rumah, orang tua bisa juga
menyediakan
alat permainan yang disukai anak.
b.
Waktu luang dianggap remaja sebagai waktu untuk melakukan apapun
yang
disenanginya semata.
c.
Bagi orang tua waktu luang adalah waktu yang harus dimanfaatkan
untuk
sesuatu yang bermanfaat dan produktif dari sudut pandang orang
tua,
bukan dari sudut pandang anak.
d.
Orang tua menganggap bahwa waktu luang adalah waktu sia-sia
sehingga
rehatnya anak diwaktu luang dianggap tidak memanfaatkan
waktu
secara maksimal. Ketika anak selonjoran ditempat tidur dengan
membaca
buku komik atau novel, sedang main game, jalan-jalan atau
sekedar
menonton televisi, maka cenderung kita menganggap mereka
telah
membuang waktu (Anonim, 2009).
5.
Mengelola Waktu Luang Yang Kreatif
Waktu
yang dimiliki setiap orang akan terus bergerak maju. Pada
prinsipnya
waktu luang yang bergerak maju ini akan mengikis habis waktu
yang
anda miliki. Kenyataan yang sering kita hadapi ternyata kita mengeluh
dengan
waktu yang tiba-tiba berlalu begitu saja, sementara anda tidak berbuat
apa
pun (Frans M. Royan, 2011: 88).
Depdiknas
(2009), mengelola waktu dalam setiap kegiatan sangat
penting
sehingga dapat memanfaatkan setiap jam, menit, dan bahkan detik
dalam
hidup dengan sebaik-baiknya. Seorang siswa perlu memperhatikan dan
mengelola
waktu mereka baik itu dalam lingkungan sekolah maupun diluar
sekolah,
berikut akan dipaparkan apa saja yang perlu dilakukan dan
diperhatikan
seseorang, khususnya pelajar dalam mengatur waktu:
a.
Membagi Waktu
Tugas
utama pelajar adalah belajar baik disekolah, rumah, ataupun
tempat
kursus. Seorang pelajar harus melakukan pengaturan atas waktu
dan
kegiatan belajar. Bagi seorang pelajar mengatur waktu tidak berarti ia
harus
menghabiskan waktunya untuk belajar. Seorang pelajar tetap
membutuhkan
waktu untuk bersosialisasi, bersantai, dan sebagainya.
Prinsip
utama pengelolaan waktu secara efektif dalah pembagian waktu
untuk
setiap kegiatan. Pada umumnya, setiap sekolah sudah menetapkan
jadwal
belajarnya; kapan saatnya masuk sekolah, kapan saatnya pulang,
apa
jadwal pelajaran hari per hari, jadwal kegiatan ekstrakurikuler, dan
seterusnya.
b.
Membuat Jadwal
Untuk
mempermudah pengaturan kegiatan, seorang pelajar dapat
menerapkan
pula sistem jadwal kegiatan di sekolah untuk mengatur jadwal
kegiatan
di rumah. Dengan kata lain, jadwal kegiatan yang didapat dari
sekolah
kemudian ditambahkan dengan jadwal kegiatan pribadi di rumah
(di
luar sekolah).
Langkah-langkah
untuk menyusun jadwal kegiatan di rumah
adalah
sebagai berikut:
1)
Untuk mempermudah penyusunan jadwal, lakukanlah dahulu
survei
kegiatan sehari-hari.
2)
Tuliskan terlebih dahulu jadwal kegiatan yang bersifat terusmenerus
(reguler),
seperti sekolah, bimbingan belajar, dan kegiatan
ekstrakurikuler.
3)
Setelah mendaftarkan kegiatan reguler, mulailah menyusun daftar
kegiatan
di rumah. Ketika survei, perhatikan pula beberapa aspek
kebutuhan
dalam pekerjaan tersebut, seperti berapa lama waktu
yang
dibutuhkan untuk mencuci, kapan waktu yang tepat untuk
memandikan
adik, seberapa sering mencabuti rumput, dan lain
sebagainya.
4)
Setelah mendaftarkan seluruh tugas dan kewajiban, pilah dan
masukkanlah
waktu yang tepat untuk melakukan pekerjaanpekerjaan
tersebut.
Dengan begitu akan terlihat pembagian waktu
yang
jelas antara waktu belajar, melaksanakan tugas di rumah,
serta
waktu luang untuk bermain dan beristirahat.
c.
Menjalankan Jadwal
Seorang
siswa setelah membuat jadwal harus menepati jadwal
tersebut.
Pembuatan jadwal yang baik yaitu jadwal yang jujur, sesuai
dengan
kemampuan, bukan jadwal yang bagus. Akan percuma saja
membuat
jadwal yang bagus dan terinci jika pada akhirnya tidak dapat
dijalani.
Seseorang harus dapat membuat skala prioritas. Hal ini berkaitan
dengan
komitmen dan tanggung jawab seseorang terhadap pekerjaannya.
d.
Evaluasi
Jadwal
yang dibuat terlalu longgar dalam artian sering dapat
ditepati
dalam waktu yang lebih singkat daripada target, ada baiknya
jadwal
dipadatkan. Dengan begitu akan didapat jadwal kosong yang dapat
dimanfaatkan
untuk kegiatan lain.
Ada
kalanya jadwal yang telah dibuat berantakan begitu saja. Pada
akhirnya,
sang pembuat jadwal stress karena kegagalannya menepati
jadwal
dan tumpukan pekerjaan yang terus menggunung. Jika hal ini yang
terjadi,
coba dilihat dahulu, apa yang menyebabkan kegagalan tersebut.
e.
Penggunaan Alat Bantu
Pengaturan
waktu dapat dipermudah pelaksanaanya dengan
digunakannya
alat bantu. Alat yang paling sederhana adalah agenda.
Agenda
berfungsi sebagai tempat mencatat jadwal dan daftar kegiatan.
Dengan
adanya agenda, seseorang dapat memeriksa dulu jadwalnya
sebelum
membuat janji baru. Hal ini berguna untuk menghindari
bentroknya
jadwal.
Pada
era digital sekarang ini, fungsi agenda sudah banyak
digantikan
oleh telepon selular (ponsel) dan personal digital
asisstant
(PDA). Sebagian besar ponsel dan PDA yang beredar di pasaran
saat
ini sudah memasukkan fungsi agenda. Hal ini memudahkan
penggunanya
karena ia cukup membawa ponsel dan PDA sebagai
pengganti
agenda.
BAB III: Penelitian
Pengambilan Data
Penelitian tentang Kreativitas Mahasiswa Dalam Memilih Kegiatan Untuk Mengisi Waktu Luang, kami melakukan penelitian dengan metode wawancara kepada 5 partisipan yang kami pilih untuk menjelaskan kreativitas mereka dalam memilih kegiatan utnuk mengisi waktu luang.
Kami meneliti dengan menggunakan perekam
suara dari smartphone kami.





BAB IV
Hasil Penelitian
1.
Responden pertama menjawab:
Cara saya mengisi waktu luang dengan
berkumpul teman-teman seperti biasanya. Karena saya dapat merasakan berkumpul
dengan teman membuat pikiran jernih dan tingkat solidaritas meningkat.
2.
Responden kedua menjawab:
Cara saya dengan memilih kegiatan yang
berkualitas meskipun butuh budget lebih karena kegiatan yg berkualitas menurut
saya harga takan menipu seperti kegiatan kepulau private yang belum pernah saya
jumpai.
3.
Responden ketiga menjawab:
Cara saya mengisi waktu luang dengan
budget yg murah seperti ke tempat yg banyan di rekomendasikan temen yg saya
tanyakan, Dan harganya murah seperti kepulauan seribu sekalian mencari
pengalaman baru
4.
Responden keempat menjawab:
Cara saya memilih kegiatan dengan jalan
jalan yg tidak direncanakan sebelumnya ke tempat yg mudah di capai yg saya
sudah tahu sebelumnya sepeti puncak
5.
Responden kelima menjawab:
Cara saya memilih kegiatan yaitu dengan
searching di media sosial yg sudah terkenal Dan mudah di capai seperti kota tua
Dan dufan
Hasil yang kami peroleh setelah
mewawancarai 5 partisipan, kebanyakan dari mereka melakukan kegiatan yang belum
pernah mereka lakukan sama sekali dan mereka menjelaskan kepada kami mereka
mengetahui kegiatan tersebut dari searching
dan recommend dari teman-teman mereka. Sebagian lagi mereka
hanya melakukan hal yang sudah pernah mereka lakukan tetapi ada sedikit
pengembangan kegiatan agar tidak jenuh.
BAB V
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Demikian makalah tentang kreativitas
seorang mahasiswa mengenai cara dan pendukung untuk memilih kegiatan untuk
mengisi waktu luang yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Kesimpulan
Jadi pada dasarnya elemen dasar dalam memilih kegiatan untuk mengisi waktu luang yang kreatif timbul karena pemikiran kreatif seseorang, cara menggunakan dan referensi kegiatan mengisi waktu luang. Dengan mengetahui kinerja 3 hal tersebut
diharapkan dapat benar-benar mengetahui bagaimana memilih kegiatan dengan lebih efektif dan efesien.
Jadi pada dasarnya elemen dasar dalam memilih kegiatan untuk mengisi waktu luang yang kreatif timbul karena pemikiran kreatif seseorang, cara menggunakan dan referensi kegiatan mengisi waktu luang. Dengan mengetahui kinerja 3 hal tersebut
diharapkan dapat benar-benar mengetahui bagaimana memilih kegiatan dengan lebih efektif dan efesien.
DAFTAR PUSTAKA
http://say2revolution.wordpress.comwww.total.or.id
http://sharahhanifah.blogspot.com/2015/03/pengertian-kreativitas-dan-teori.html